Mitos Atau Fakta, Gula Penyebab Diabetes?

Sering kita dengar bahwa gula dapat menyebabkan beberapa penyakit yang tidak asing ditelinga kita seperti diabetes dan obesitas. Sehingga banyak orang yang mulai mengurangi atau bahkan menjauhi konsumsi gula terutama makanan yang mengandung banyak gula seperti kue, permen, manisan dan sebagainya.

Tapi benarkah gula menyebabkan diabetes?, apakah itu fakta atau hanya mitos?. Mari kita cari tahu disini.

Apakah Gula Penyebab Diabetes?

Diabetes adalah penyakit yang ditandai dengan kadar gula darah yang tinggi. Sering dihubungkan dengan banyak mengkonsumsi makanan berkadar gula tinggi yang mengakibatkan gula darah menjadi naik.

Berdasarkan beberapa penelitian memang ada kaitannya antara mengkonsumsi makanan tinggi gula dengan meningkatkan resiko diabetes, namun tidak hanya itu, faktor-faktor lain juga ikut mempengaruhi seperti gaya hidup yang tidak sehat dan genetika.

Bagaimana Terjadi Diabetes?

Diabetes terjadi ketika tubuh tidak mampu secara efektif mengatur kadar gula darah. Ini disebabkan ketika pankreas berhenti menghasilkan cukup insulin, atau ketika sel-sel dalam tubuh menjadi resisten terhadap insulin yang dihasilkan atau bisa keduanya.

Insulin adalah hormon yang diperlukan untuk memindahkan gula keluar dari aliran darah dan masuk ke sel-sel tubuh. Kadar gula darah tinggi dalam jangka panjang dapat mengakibatkan beberapa komplikasi seperti peningkatan resiko terkena penyakit jantung, saraf dan kerusakan ginjal. Sangat penting untuk selalu menjaga dan memeriksa kadar gula darah Anda.

Ada dua jenis utama dari diabetes yaitu :

Diabetes tipe 1

Ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang pankreas dan menghancurkan kemampuan pankreas untuk memproduksi insulin. Diabetes tipe 1 relatif jarang ditemui, biasanya disebabkan oleh faktor genetik dan hanya terjadi sekitar 5-10% dari semua kasus diabetes.

Tipe 2

Terjadi ketika pankreas berhenti memproduksi cukup insulin, atau sel-sel tubuh menjadi resisten terhadap insulin yang dihasilkan atau keduanya. Diabetes tipe 2 adalah kasus yang lebih sering ditemui yaitu lebih dari 90% kasus-kasus diabetes, terutama dipengaruhi oleh faktor makanan dan gaya hidup .

Bagaimana Gula Dimetabolisme?

Ketika membicarakan gula, ini mengarah kepada sukrosa atau gula meja yang terbuat dari gula tebu atau gula bit. Sukrosa terdiri dari satu molekul glukosa dan satu molekul fraktosa yang terikat bersama. Ketika kita mengkonsumsi sukrosa, glukosa dan fruktosa maka molekul tersebut dipisahkan oleh enzim dalam usus kecil sebelum diserap ke dalam aliran darah.

Hal ini meningkatkan kadar gula dalam darah dan memberikan sinyal ke pankreas untuk melepaskan insulin. Insulin mengangkut glukosa dari aliran darah ke sel-sel dimana glukosa dimetabolisme menjadi energi.

Sejumlah kecil fruktosa juga diambil oleh sel dan digunakan untuk energi tubuh. Fruktosa dibawa ke hati dan diubah menjadi glukosa baik untuk disimpan sebagai energi atau lemak.

Karena fruktosa dapat diubah menjadi lemak, maka asupan tinggi fruktosa juga dapat meningkatkan kadar trigliserida yang beresiko meningkatkan penyakit jantung dan hati berlemak.

Metabolisme fruktosa dapat menimbulkan kadar asam urat dalam darah. Jika kristal asam urat ini menetap di sendi maka akan menyebabkan berkembangnya suatu kondisi asam urat yang menyakitkan.

Jika Anda makan lebih banyak gula daripada yang digunakan tubuh untuk energi maka kelebihan gula akan diubah menjadi asam lemak dan disimpan sebagai lemak tubuh.

Inilah mengapa dikatakan makan makanan tinggi gula dengan kurang aktivitas atau olahraga dapat menimbun lemak ditubuh yang menyebabkan kenaikan berat badan.

Apakah Gula Dapat Meningkatkan Resiko Diabetes?

Beberapa penelitian menemukan bahwa orang-orang yang secara teratur minum minuman manis bergula rata-rata memiliki resiko lebih besar terkena diabetes tipe 2. Kenyataannya hanya dengan satu minuman manis bergula perhari telah meningkatkan resiko sebesar 13% diluar dari kenaikan berat badan yang dapat ditimbulkan.

Hubungan antara asupan gula dan diabetes masih berkaitan erat meskipun Anda telah mengendalikan total asupan kalori, berat badan, alkohol dan olahraga setiap hari. Banyak peneliti percaya bahwa gula meningkatkan risiko diabetes secara langsung maupun tidak langsung.

Makan sejumlah gula secara tidak langsung meningkatkan resiko diabetes dengan berkontribusi terhadap berat badan dan lemak tubuh yang merupakan faktor resiko pengembangan diabetes.

Untuk mengurangi dampak negatif dari konsumsi gula tinggi WHO merekomendasikan agar menggunakan tidak lebih dari 10% kalori gula tambahan harian yang tidak alami pada makanan.

Gula Alami Tidak Memberi Efek Yang Sama

Mengkonsumsi gula tambahan telah berkaitan dengan diabetes tapi tidak benar pada gula alami. Gula alami yang dimaksud adalah gula yang terdapat pada buah-buahan dan sayuran yang menghasilkan rasa manis dan selama proses pembuatannya belum ditambahkan gula.

Jenis gula alami ini berada dalam matriks serat, air, antioksidan dan nutrisi lainnya. Sehingga gula alami lebih lambat dicerna dan lebih kecil menyebabkan kenaikan gula dalam darah.

Buah-buahan dan sayuran cenderung mengandung lebih sedikit gula menurut beratnya daripada makanan olahan. Beragam penelitian menemukan bahwa makan buah setidaknya satu porsi sehari mengurangi resiko diabetes 7-13% bila dibandingkan dengan tidak makan buah setiap hari.

Bagaimana Dengan Pemanis Alami?

Pemanis alami seperti madu atau sirup maple terbuat dari sumber tanaman alami yang sangat halus seperti gula pasir atau gula meja. Pemanis alami ini mengandung sejumlah besar fruktosa dan sukrosa yang dianggap sebagai gula tambahan bila digunakan dalam memasak.

Oleh karena itu pemanis alami ini harus dikonsumsi secukupnya seperti halnya pada gula tambahan, idealnya kurang dari 10% jumlah kalori harian Anda.

Apakah Pemanis Buatan Meningkatkan Resiko Diabetes?

Pemanis buatan adalah rasa manis yang dibuat oleh manusia. Diciptakan untuk menghadirkan cita rasa manis yang tidak dapat dimetabolisme tubuh sebagai energi. Pemanis buatan menghasilkan rasa manis tanpa kalori. Namun meskipun pemanis buatan tidak meningkatkan kadar gula darah, ini masih berkaitan dengan perkembangan resistensi insulin dan diabetes tipe 2.

Beberapa teori yang mengatakan pemanis buatan dapat meningkatkan resiko diabetes, seperti :

– Satu pemikiran mengatakan bahwa produk-produk yang mengandung pemanis buatan akan meningkatkan hasrat untuk makan makanan manis sehingga mengarah kepada kenaikan berat badan yang beresiko diabetes.

– Pemikiran lain mengatakan bahwa pemanis buatan mengganggu kemampuan tubuh untuk mengkompensasi kalori dari gula dengan benar karena otak mengasosiasikan rasa manis dengan nol kalori.

– Beberapa penelitian lain menemukan bahwa pemanis buatan dapat mengubah jenis dan jumlah bakteri yang hidup di usus besar yang berkontribusi terhadap intoleransi glukosa, kenaikan berat badan dan diabetes.

Namun hal ini masih memerlukan lebih banyak penelitian untuk mengetahui dengan tepat bagaimana kaitan antara pemanis buatan dengan diabetes.

Faktor Lain

Faktor lain yang berkaitan dengan resiko diabetes adalah :

Berat badan

Penelitian menunjukkan bahwa kegemukan atau obesitas adalah salah satu faktor resiko utama yang berkaitan dengan diabetes tipe 2, tapi dengan mengurangi berat badan sebesar 5-10% dapat mengurangi resiko.

Olahraga

Orang-orang yang hidup dengan gaya hidup banyak duduk atau kurang aktivitas gerak, dua kali lebih berisiko terkena diabetes tipe 2 dibandingkan dengan orang-orang yang aktif. Berolahraga 150 menit per minggu secara teratur dapat mengurangi risiko diabetes.

Merokok

Merokok 20 batang atau lebih perhari beresiko lebih dari dua kali lipat terkena diabetes. Berhenti merokok dapat membawa tubuh kembali normal dan mengurangi resiko.

Apnea tidur

Apnea tidur merupakan suatu kondisi dimana pernapasan terhambat pada tidur malam hari, ini juga berkaitan dengan resiko terkena diabetes.

Genetika

Faktor genetika memberikan resiko pengembangan diabetes tipe 2 sebesar 40% jika salah satu orang tua memiliki diabetes. Dan beresiko 70% jika kedua orang tua memiliki diabetes.

Kesimpulan

Konsumsi gula berlebihan dapat meningkatkan resiko diabetes tipe 2 karena efek negatif gula pada hati dan resiko lebih tinggi pada obesitas. Selain gula beberapa faktor lain turut meningkatkan resiko diabetes seperti gaya hidup tidak sehat, kualitas makanan, berat badan, kualitas tidur, kurang gerak atau olahraga dan genetika.

Gula alami yang terdapat pada buah dan sayuran tidak memiliki efek negatif yang berkaitan dengan diabetes. Namun pemanis buatan juga mempunyai resiko diabetes yang sama seperti gula.

Konsumsi banyak buah dan sayuran, kacang-kacangan, kopi, menghindari minum alkohol, mempertahankan berat badan seimbang dan olahraga teratur dapat membantu mengurangi resiko diabetes tipe 2.